copyright vemale.com/Anisha SP
copyright vemale.com/Anisha SP

Ragam budaya Indonesia melahirkan berbagai keindahan yang diwarisi, seperti kain-kain tradisional yang masih dijaga hingga sekarang. Proses pembuatan kain pun seperti perjalanan yang panjang. Inilah mengapa keindahan kain-kain tradisional seperti lurik tak pernah lekang oleh waktu.

Variety of Indonesian culture gave birth to a variety of inherited beauty, such as traditional fabrics that are still preserved today. The process of making the cloth was like a long journey. This is why the beauty of traditional fabrics such as lurik is never timeless.

Desainer kenamaan Lulu Lutfi Labibi menciptakan koleksi pakaian dengan menggunakan motif lurik yang sangat khas, bertemakan Persimpangan. Tema ini sendiri ialah alur kelanjutan dari koleksi sebelumnya yang berjudul Perjalanan untuk koleksi Spring Summer 2017 dan Terikat untuk koleksi edisi terbatas menyambut Hari kemerdekaan. Sebuah rangkaian cerita empat babak yang sekarang memasuki babak ke tiga.

Renowned designer Lulu Lutfi Labibi creates a collection of clothing with a very distinctive lurik motif, themed Junction. This theme itself is a continuation flow from the previous collection entitled Journey to Spring Summer collection of 2017 and Tied for a limited edition collection to welcome Independence Day. A series of four-part stories that now enter the third round.

“Jika dalam koleksi Perjalanan lahir motif-motif baru lurik dengan nama Baur Rupa,Duka Luruh,Langit Senja dan lain-lain,maka dalam koleksi Persimpangan menyaksikan mereka tumbuh dengan segala gelap dan terangnya perjalanan. Pertemuan dan perpisahan, memiliki dan kehilangan, patah dan tumbuh, serta persimpangan pada sebuah pilihan,” ujarnya saat di temui di Jakarta Fashion Week 2018, di Senayan City, Jakarta.

“If in the Travel collection were born new motives striated by the name of Baur Rupa, Lament of Luruh, Sky of Twilight and others, then in the Junction collection witnessed them grow with all the darkness and brightness of the journey.A meeting and separation, owning and losing, broken and grow, and the intersection of an option, “he said, at Jakarta Fashion Week 2018, in Senayan City, Jakarta.

copyright vemale.com/Anisha SP

Menurutnya untuk koleksi kali ini lebih deskontruktif dalam proses kreatif semakin terlihat jelas untuk koleksi ini. Potongan asimetris, alur motif garis yang saling bersilangan, benang yang dibiarkan unfinished, dan pemunculan “fringe” yang diaplikasikan pada rok lilit, dress longgar bervolume, serta jaket.

For this time collection it will be more descontructive in the creative process more visible clearly visible for this collection. Asymmetrical cuts, cross-cut line motifs, unfinished threads, and the appearance of “fringe” are applied to the twisted skirts, loose volume dresses, and jackets.

Dalam koleksi ini, warna-warna terang seperti ungu atau violet, hijau, dan kuning, alli ditimpa oleh warna gelap yang pekat menjadi ciri khas dalam koleksi terbarunya.

In this collection, bright colors like purple or violet, green, and yellow, all overwritten by a dark color that became a distinctive characteristic in its latest collection.

“Akhirnya, persimpangan yang layaknya kita rayakan. Sebuah persinggungan manis untuk mengantarkan kita pulang,” tutupnya.

“Finally, the intersection that we celebrate, a sweet intersection to take us home,” she concluded.

Sumber: https://www.vemale.com/fashion-update/108731-kain-lurik-dalam-koleksi-persimpangan-di-jakarta-fashion-week-2018.html

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here